Peramal Kabareskrim Polri Kecele, Sigit Lebih Cinta Harmoni

 Peramal Kabareskrim Polri Kecele, Sigit Lebih Cinta Harmoni
Suryadi, Pemerhati Kepolisian dan Budaya
Editor : Donald News — Sabtu, 20 Februari 2021 02:57 WIB
terasjakarta.id


Para "peramal" Kabareskrim baru Polri pada "kecele". Munculnya nama Komjen Drs. Agus Andrianto, S.H. (Akpol 1989) dan mutasi bintang tiga lainnya, membuktikan Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo lebih mengutamakan harmoni di 'teras utama' Polri ketimbang bikin-bikin 'kejutan'.

"Banyak yang berspekulasi pengganti Sigit sebagai Kabareskrim adalah teman seangkatan Sigit (Akpol 1991) atau wakilnya, tapi pada kecele tuh...," kata pengamat kepolisian dan budaya, Suryadi, M.Si, Jumat (19/2/21) di Jakarta.

Dalam Surat Telegram (ST) No. ST/318/II /2021 tanggal 18 Februari 2021,  Kapolri juga memutasi sejumlah jenderal bintang tiga, namun  tetap dalam lingkar 'teras utama' Polri.

Bahkan, Wakabareskrim Irjen Pol Wahyu Hadiningrat dimutasi menjadi Asrena Kapolri, dan Irjen Wahyu Widada, teman seangkatan Sigit (Akpol 1991) tetap Kapolda NADarussalam.

Satu-satunya Kapolda (Papua) yang masuk ke dalam lingkar 'teras utama' Polri adalah Irjen Pol Paulus Waterpau (Akpol 1987). Pria yang tak lama lagi 58 tahun ini dipromosi menjadi Kabaintelkam menggantikan Komjen Pol. Dr. Rycko Amelza Dahniel (1988B) yang bergeser menjadi Kalemdiklat Polri.

Sementara Kalemdiklat Komjen Pol. Arief Sulistyanto bergeser ke Kabaharkam menggantikan Agus Andrianto yang menjadi Kabareskrim menggantikan Sigit.

Dengan masuknya Waterpau dan praktis ia akan naik menjadi bintang tiga, berarti dua orang dari lulusan Akpol 1987 berada di "teras utama" Polri.  Sebab,  Komjen Pol Agung Budi Maryoto yang masih dua tahunan lagi memasuki usia pensiun, tetap sebagai orang ketiga Polri, Irwasum.

Dari mutasi tersebut, tergambar jelas, Sigit bukan orang yang suka 'kejutan-kejutan'.  "Meski tegas, Sigit tetap dengan ciri "ke-Jawaannya". Dia 'dingin' dan lebih memilih perubahan yang harmoni," kata Suryadi

.Dilantik pada Rabu, 27 Februari 2021, dia tidak menggebu-gebu melakukan mutasi. Baru sekitar 21 hari kemudian terbutkan TR mutasi. 

Salah satu ciri kepemimpinan pada pemimpin 'nan Jawa', kata Suryadi, adalah tidak ingin adanya gejolak. 

Perubahan sebisa mungkin haruslah tetap membawa keselarasan, keseimbangan dan ketenangan.

Harus diakui senioritas dan junioritas berdasarkan tahun kelulusan Akpol, diam-diam masih kini berlangsung secara tidak resmi di Polri. Hal ini, lanjutnya, butuh waktu untuk mengubahnya sejalan dengan "penyehatan politik pengkariran dan profesionalitas

Oleh karena itu, bagi Sigit yang tergolon paling junior namun dengan kepangkatan dan jabatan tertinggi di Polri, ia butuh lingkungan yang harmoni dan kondusif bagi penataan struktur dalam organisasi Polri secara berkelanjutan.

"Intinya, Sigit bukan orang yang menggebu-gebu, namun sebagai pemimpin ia paham urgensi," urai Suryadi. (don)

 

Peramal kabareskrim kecela Sigit lebih cinta harmoni

Loading...

Related Post