Cliff Swing Diatas Jurang Gunung Api Purba Nglanggeran, Berani ?

Cliff Swing Diatas Jurang Gunung Api Purba Nglanggeran, Berani ?
Cliff Swing di Gunung Api Purba Nglanggeran
Editor : Admin Traveling — Minggu, 14 Februari 2021 16:53 WIB
terasjakarta.id - Pernah mencoba keseruan berayun diketinggian dan mencoba sensasi baru ada baiknya mencoba ke Gunung Api Purba Nglanggeran.

Yah, salah satu destinasi wisata favorit di Gunungkidul ini telah menyediakan wahana yang dipastikan akan memacu adrenalin kita.

Apabila kamu termasuk dalam orang-orang yang gemar menghadapi tantangan, maka tidak ada salahnya untuk mencoba wahana Cliff Swing di Gunung Api Purba Nglanggeran dengan puncak setinggi 700 meter.

Cliff Swing sendiri bila diartikan dapat dikatakan sebagai permainan ayunan diketinggian. Dalam hal ini kegiatan ekstrim dilakukan diantara 2 tebing.

Namun jangan salah, barang siapa yang pernah mencoba niscaya akan ketagihan dan ingin mencoba kembali.

Untuk menuju objek wisata yang satu ini relatif mudah dan tidak butuh waktu lama diperjalanan. Selain akses jalan yang sudah baik secara jarak dapat dikatakan dekat. Dari pusat kota Jogja bisa ambil Jalan Wonosari untuk kemudian ambil arah Patuk dan naik menuju Desa Wisata Nglanggeran.

Tak mudah untuk mencoba keseruan Cliff Swing, peserta diharuskan mendaki Gunung Api Purba. Meski tidak terlalu tinggi tetap membutuhkan daya ekstra.

Setelah sampai dipuncak atau ketinggian 700 meter diatas permukaan laut maka keseruan itu akan dimulai. Jangan kuatir soal safety karena pengelola telah terlatih mendampingi peserta Cliff Swing.

Perlu menjadi catatan penting untuk mengikuti perintah mereka. Dan jangan coba-coba untuk melakukan kegiatan yang konyol sehingga menimbulkan potensi bahaya.

Beberapa momen yang paling banyak dinanti adalah berjalan diatas seutas tali hingga berada diantara 2 tebing terjal. Tidak berhenti disitu kemudian kita bisa melompat dan berayun diatas jurang dengan kedalaman 100 meter.

Hanya mereka yang benar-benar siap secara mental tentunya untuk menjajal wahana diatas langit ini.

Gunung Api Purba Nglanggeran ini disebut-sebut sudah terbentuk sekitar 60-70 juta tahun yang lalu.

Gunung Api Purba ini adalah satu dari tiga gunung purba di Pulau Jawa. Dua lainnya Gunung Api Purba di Kebumen Jawa Tengah dan Gunung Api Purba Kaldera Pasir Tengger di Jawa Timur.

Tak hanya itu, pemandangan yang disuguhkan sangat luar biasa sehingga petualangan semakin seru.

Dibalik ketegangan dan keindahan Gunung Api Purba Nglanggeran, terdapat suatu kisah atau cerita yang saat ini masih dipercaya oleh warga setempat. Nglanggeran menurut warga setempat berasal dari kata "nglanggar" atau dalam Bahasa Indonesia berarti melanggar.

Pada zaman dahulu warga sekitar Gunung Api Purba Nglanggeran mengundang seorang dalang kenamaan untuk acara syukuran berkat panen yang melimpah, namun saat itu terdapat beberapa warga yang ceroboh, saat sang dalang pergi sesaat untuk beristirahat terdapat beberapa warga dengan sengaja memainkan wayang yang dibawa sang dalang, dengan asyiknya mereka bermain wayang sehingga kemudian wayang tersebut ada yang rusak dan ditinggalkan begitu saja.

Melihat wayangnya rusak sang dalang pun marah dan mencari siapa yang telah merusak wayangnya, kemudian sang dalang pun murka dan mengutuk beberapa warga setempat menjadi wayang yang lalu dibuang di kawasan Bukit Nglanggeran.

Entah berkaitan dengan cerita ini atau tidak, sampai sekarang sebagian masyarakat setempat meyakini bahwa Gunung Api Purba Nglanggeran dijaga oleh makhluk bernama Kyai Ongko Wijoyo dan tokoh pewayangan Punokawan yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

Selain itu masih terdapat misteri yang melekat di Gunung Api Purba Nglanggeran, yaitu terdeapat sebuah Kampung Pitu atau Kampung Tujuh yang didalamnya hanya boleh dihuni oleh 7 kepala keluarga.

Kepercayaan ini sudah ada sejak dahulu dan dipercaya turun-temurun hingga sekarang, konon jika jumlah kepala keluarga di Kampung Pitu ini lebih dari 7 maka kepala keluarga ke 8 akan menderita penyakit yang berujung kematian, pun jika jumlah kepala keluarga kurang dari 7 maka akan ada wabah penyakit yang akan menyerang seluruh penduduk Kampung Pitu hingga dapat berujung pada kematian.

Itulah mengapa Kampung Pitu hanya boleh dihuni oleh 7 kepala keluarga tidak lebih dan tidak kurang, jika terdapat anak dari salah satu kepala keluarga menikah maka ia akan keluar dari Kampung Pitu dan menetap di bawah atau di lereng Gunung Api Purba Nglanggeran. (adt)

Cliff Swing Gunung Api Purba Nglanggeran Yogyakarta

Loading...

Related Post