Investigasi Sementara WHO Sebut Virus Corona Tidak Sepenuhnya dari Wuhan

Investigasi Sementara WHO Sebut Virus Corona Tidak Sepenuhnya dari Wuhan
Anggota tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terlihat mengenakan APD selama kunjungan lapangan ke Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Hewan Hubei di Wuhan di provinsi Hubei, China tengah, Selasa (2/2/2021). / AP Photo
Editor : Potan News — Sabtu, 13 Februari 2021 09:19 WIB
terasjakarta.id

Selama empat pekan, 10 ilmuwan WHO keluar masuk pasar hingga laboratorium di WuhanChina. Mereka ingin membuktikan spekulasi viral yang menyebut Virus Corona COVID-19 berasal dari Negeri Tirai Bambu.

Hasilnya, Tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan asal usul Virus Corona penyebab COVID-19 tidak begitu sesuai dengan berbagai teori dan hipotesa yang beredar. Mereka tidak menemukan COVID-19 berasal dari laboratorium atau pasar di Wuhan.

Anggota tim studi gabungan WHO-China, Peter Ben Embarek mengatakan, insiden laboratorium "sangat tidak mungkin" menjadi penyebab munculnya COVID-19. Para ahli dalam tim tersebut mengidentifikasi empat hipotesis terkait sumber penularan Virus Corona ke populasi manusia, yaitu penyebaran zoonosis (penyakit yang dapat ditularkan hewan kepada manusia) langsung, spesies inang perantara, rantai makanan, dan insiden yang berkaitan dengan laboratorium.

Temuan awal menunjukkan penularan melalui spesies inang perantara merupakan jalur "dengan kemungkinan terbesar" dan memerlukan studi lebih lanjut serta penelitian dengan target yang lebih spesifik, paparnya.

"Bagi kami, penting untuk mengembangkan sebuah sistem guna mengevaluasi semua hipotesis ini, yang memungkinkan kami mengambil pendekatan rasional serta melihat fakta dan bukti secara rasional," jelas Embarek.

Para ilmuwan menyimpulkan virus tersebut tidak mungkin merupakan buatan manusia, kata Liang Wannian, anggota lain dari tim studi gabungan WHO-China. "Sama sekali tidak ada Virus Corona baru di laboratorium Wuhan, jadi bagaimana mungkin virus itu bocor dari lab tersebut?" ujar Liang.

Selain laboratorium, pasar makanan laut Huanan di Wuhan bisa jadi telah memungkinkan penyebaran Virus Corona COVID-19, namun bukan berarti virus itu berasal dari sana, menurut Vladimir Dedkov, pakar asal Rusia dan anggota tim ahli WHO yang menelusuri asal-usul COVID-19.

Dia mengatakan, "Tidak ada bukti bahwa virus itu berasal dari sana. Namun, menurut hipotesis, terdapat semua syarat untuk terjadinya penyebaran virus di tempat itu."

Pasar makanan laut tersebut dikaitkan dengan sebuah klaster awal kasus COVID-19, tetapi para ilmuwan belum dapat membuat kesimpulan tegas mengenai peran yang dimainkannya dalam penularan itu. Saat mengunjungi Institut Virologi Wuhan bersama sembilan pakar WHO lainnya, Dedkov juga membantah teori tentang kebocoran virus.

"Tentu saja, penting bagi misi kami untuk mengunjungi fasilitas ini, berbicara dengan kolega kami, dan melihat bagaimana segala sesuatunya dikelola di sana," ujarnya.

Dedkov menambahkan, mengingat laboratorium tersebut memiliki semua peralatan yang dibutuhkan, sulit baginya untuk membayangkan sesuatu bisa bocor dari sana. 

Hasil temuan WHO ini tidak membuat semua orang senang. Direktur Eksekutif Program Kesehatan Darurat WHO, Dr. Michael Ryan pun menantang orang-orang yang mengklaim memiliki informasi tentang bagaimana pandemi meluas, untuk muncul dan memberikan penjelasan.

Menurut Ryan, ada banyak kritikus yang mengatakan mereka "tidak akan menerima laporan hasil penelitian WHO ketika keluar", atau ada "intelijen lain yang tersedia yang mungkin menunjukkan temuan berbeda" tentang bagaimana virus itu menyebar.

"Jika Anda memiliki jawabannya, tolong beri tahu kami," ujar Ryan.

Selain itu, Ryan juga mempertanyakan seberapa bertanggungjawabnya para pengkritik, yang menolak laporan Tim WHO. Ryan menyebutkan, penelitian tersebut seharusnya mendapatkan dukungan internasional, meski WHO tidak menemukan bukti kuat asal usul Virus Corona COVID-19 dari Wuhan, China.

Sejauh ini, negara yang menolak hasil temuan WHO di Wuhan ini adalah Amerika Serikat (AS). Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengatakan, pihaknya tidak akan menerima hasil temuan WHO dari penyelidikan Virus Corona COVID-19 di Wuhan, China. 

Menurutnya, penghitungan lengkap oleh WHO dan China yang merinci bagaimana pandemi dimulai dan menyebar sangat penting mengingat pengaruhnya dan dampak global dari Virus Corona COVID-19.

"Jelas, China, setidaknya sampai saat ini, belum menawarkan transparansi yang kita butuhkan dan, yang sama pentingnya, komunitas internasional perlu, sehingga kita dapat mencegah pandemi seperti ini terjadi lagi," kata Price dalam sebuah pengarahan, seperti dilansir South China Morning Post, Kamis (11/2/2021). 

"Kami akan bekerja dengan mitra kami, dan juga memanfaatkan informasi yang dikumpulkan dan dianalisis oleh komunitas intelijen kami sendiri ... daripada terburu-buru membuat kesimpulan yang mungkin dimotivasi oleh hal lain selain sains," sebut Price. 

Peneliti Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr.rer.nat. Wien Kusharyoto menilai dalam pencarian asal usul virus ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. "Pada dasarnya kita harus tahu kira-kira sumbernya dari mana, karena dari sana bisa diuji dengan berbasis tes seperti RT PCR karena itu salah satu pengujian yang paling akurat untuk menemukan asal muasal virus," ujar Wien seperti dikutip Liputan6.com.

"Atau bisa juga berbasis pada jaringan yang ada dari kasus-kasus yang terjadi sebelumnya. Jika ada sampel-sampel yang dikumpulkan maka bisa dipelajari lebih lanjut.”

Lebih jauh, menurut Wien, pencarian asal usul virus tergantung pada bahan-bahan awal yang dikumpulkan. Jika, bahan atau bukti awal tidak ada, maka peneliti akan sulit dalam menentukan asal usul virus secara pasti.

Wien juga menyampaikan durasi penemuan virus secara umum. Seperti telah dipaparkan sebelumnya, durasi penemuan asal usul virus juga tergantung pada kemudahan dalam mendapatkan lingkaran-lingkaran awal dari proses penyebaran virusnya.

"Tapi kalau untuk kasus SARS-CoV-2 ini bisa jadi akan memakan waktu hingga berbulan-bulan atau bisa juga malah bertahun-tahun. Tergantung dengan hal-hal awal yang terjadi itu kemudian dibuka agar bisa dipelajari lebih lanjut."

Dengan kata lain, semakin diketahui lingkaran awalnya maka semakin mudah untuk mencari asal usulnya. Dalam pencarian asal usul COVID-19, Wien yakin bahwa para peneliti WHO adalah orang-orang yang ahli di bidangnya. Namun, dalam hal ini, akses mereka dalam mendapatkan lingkaran awal juga sangat berpengaruh.

"Saya yakin mereka lebih tahu apa yang harus mereka cari, tapi yang jelas semuanya tergantung akses mereka kepada sumber-sumber awal dari kemungkinan penyebaran virus itu. Kalau hal tersebut disembunyikan otomatis mereka akan kesulitan dalam menemukan sumber awal," ia memungkasi.

Sementara di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin mengatakan, kegiatan di Wuhan hanyalah bagian dari penyelidikan, dan menegaskan kembali seruan agar AS mengizinkan pakar WHO untuk meluncurkan penyelidikan di negara tersebut.

"Kami berharap AS, seperti China, akan mengambil sikap terbuka dan transparan serta mengundang pakar WHO untuk melakukan penelitian dan kajian di AS," jelas Wang.

Sumber: Liputan6.com



Investigasi Sementara WHO Virus Corona Tidak Sepenuhnya dari Wuhan

Loading...

Related Post