Menengok Masjid Jami Angke Perpaduan Berbagai Macam Etnis 

Menengok Masjid Jami Angke Perpaduan Berbagai Macam Etnis 
Bangunan Masjid Jami Angke,Tambora (foto dok masjid)
Editor : Potan Traveling — Jumat, 12 Februari 2021 13:58 WIB
terasjakarta.id

Siapa sangka Masjid Jami Angke Tambora, Jakarta Barat, yang dibangun 1761 ternyata dirancang oleh arsitek keturunan Tionghoa muslim, Syekh Liong Tan. Makam sang arsitek pun terletak di belakang masjid.

Masjid Jami Angke memiliki arsitektur unik dan bersejarah. Di setiap ornamennya menunjukkan simbol persatuan antaretnis: Hindu BaliBelanda, dan China.

Ketua Bidang Bangunan dan Sejarah Masjid Jami Angke, Muhammad Abryan Abdillah menjelaskan, perpaduan arsitektur di masjid tersebut merupakan gambaran antarentnis yang zaman dahulu tinggal di sekitar wilayah tersebut.

"Atap masjidnya arsitektur Hindu Bali dan China, pintunya ukiran bunga Hindu Bali, pilarnya juga perpaduan Belanda dan China," ujar Abryan, Kamis (11/2/2021) .

Bangunan yang sekarang menjadi cagar budaya tersebut dahulunya merupakan tempat untuk berembug dan merancang strategi perang.

Pada zaman dahulu, terjadi tragedi Angke di mana Belanda membantai etnis Tionghoa akibat keterpurukan ekonomi dan perdagangan.

Sebagian etnis Tionghoa kemudian melarikan diri ke Kampung Angke dan dilindungi penduduk asli di sana.

Seiring berkembangnya warga yang memeluk Islam, kebutuhan rumah ibadah menjadi pertimbangan. Sehingga tempat berembug antaretnis itu dibangun menjadi masjid.

Beberapa puluh tahun lalu, kata Abryan, masjid tersebut memiliki warna dominan merah dan emas yang menunjukkan adanya akulturasi budaya Tionghoa di lingkungan itu.

Namun pada 2017, ahli konservatori cagar budaya menyarankan agar bangunan Masjid Jami Angke tetap seperti bentuk aslinya hingga akhirnya sekarang dominan dengan warna natural dinding putih dan cokelat dari kayu jati.

Abryan menjelaskan kebanyakan dari penghuni Gang I Masjid Angke Tambora atau berdekatan dari masjid itu justru merupakan etnis Tionghoa.

Sehingga warga di sana punya tradisi unik ketika Imlek seperti berbagi kue-kue.

"Seperti Lebaran saja. Jadi dari kami orang asli sini dan muslim memberi kue kepada etnis Tionghoa dan diterima. Selanjutnya mereka membalasnya pakai kue keranjang," ujar dia dilansir dari Antara.

Setiap kali Imlek tiba, lanjut Abryan, banyak warga etnis Tionghoa yang lalu lalang di pemukiman sekitar masjid. Untuk berkunjung ke sanak saudara mereka.

Saat momen Imlek itu tiba, tak jarang warga asli Angke membantu mengatur parkiran mobil. Serta menyediakan jasa ojek paying kala hujan tiba.

Namun di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, Abryan tak dapat membayangkan begitu sepinya perayaan Imlek tetangganya di sekitar Masjid Jami Angke.

"Mungkin nanti jarang ada yang membantu parkirkan mobil atau ojek payung, tapi kita nantikan saja," ujar dia.

Menengok Masjid Jami Angke Perpaduan Berbagai Macam Etnis 

Loading...

Related Post