Makan Nasi Diganti Sagu, Mengapa Tidak? Sagu Meranti, Bisa Atasi Krisis Beras

Makan Nasi Diganti Sagu, Mengapa Tidak? Sagu Meranti,  Bisa Atasi Krisis Beras
Sagu dari Kabupaten Meranti, Ria, merupakan salah satu sumber karbohidrat nonberas. (Antara)
Editor : Donald Rumah Rakyat — Sabtu, 30 Januari 2021 16:52 WIB
terasjakarta.id


Masyarakat Indonesia sudah sangat fanatik dengan nasi, Sehingga ada ungkapan, “Perut belum nendang kalau belum kena nasi”

Saat ini,  kebutuhan beras untuk masyarakat Indonesia terus bertambah namun lahan sawah semakin berkurang seiring bertambahnya jumlah penduduk. Oleh sebab itu, sudah seharusnya mulai saat ini terus digencarkan mencari makanan pokok alternatif pengganti beras yang fungsinya sama, sebagai sumber karbohidrat.
Sejatinya, Indonesia memiliki beragam makanan pokok alternatif yang bisa dikembangkan dan dibudidayakan sebagai sumber pangan alternatif pengganti beras seperti jagung, ubi, singkong, sagu ataupun jenis umbi-umbian lainnya.
Bahkan bagi penderita diabetes ataupun yang sedang menjalani diet, nasi menjadi salah satu makanan "haram" karena banyak mengandung gula sehingga tidak baik untuk tubuh.
Salah satu produk pangan pengganti beras yang kini sudah dikenal luas adalah sagu. Sagu banyak dijumpai di berbagai wilayah di Indonesia, terutama di wilayah timur Indonesia yang sudah sangat popular dengan sagu. Meski demikian, sagu tetap menjadi makanan nomor dua setelah nasi,

Kali ini kita akan menengok sagu yang berasal dari belahan barat Tanah Air, yakni di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Di Riau, kabupaten terpencil itu dikenal sebagai pengahsil sagu terkemuka.
Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti Irwan Nasir  seperti dikutip dari Antara terus mempopulerkan secara nasional besarnya potensi sagu yang dimiliki daerahnya dengan melakukan berbagai kunjungan ke luar Sumatera. Belum lama ini dia presentasi ke pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Jakarta.

"Kami ingin sampaikan bahwa petani sagu di (Kepulauan) Meranti sedang merasakan dampak dari pandemi Cocid-19. Padahal sagu memiliki potensi ekonomi yang sangat besar," katanya di depan Sekjen HKTI Mayjen (Purn) Bambang Budi Waluyo dan beberapa sejumlah pengurus lainnya akhir tahun lalu.

Menurut dia, sagu bisa menjadi pangan seperti beras mengingat produksinya lebih stabil karena bisa dipanen sepanjang tahun. Di lain pihak, ketergantungan pada beras impor yang semakin meningkat dan harganya pun semakin meloncat.
Irwan berharap HKTI juga ikut membina petani sagu mengingat luas areal sagu di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, terutama di Papua. Jika dikelola dengan baik maka sagu tidak hanya dapat mewujudkan ketahanan pangan nasional tetapi juga dapat mewujudkan kedaulatan pangan di Tanah Air.
"Saat ini perlu kerjasama semua pihak dalam hilirisasi dan pemasaran olahan sagu. Kami di Meranti memang sudah bisa ekspor namun justru konsumsi sagu dalam negeri masih rendah," tuturnya.

Di sisi lain, sagu bisa diolah menjadi sagu parut kering (sapuring) yang dapat dijadikan pakan ternak. Ini perlu dukungan semua pihak agar dapat membantu pengembangan sagu.

Hal lain yang dianggap sangat perlu, katanya, adalah pemasaran sagu. Irwan berharap Bulog ikut andil agar petani sagu dapat berkembang seperti petani beras dan tanaman lainnya.

Dengan kehadiran Bulog membeli sagu dari petani, tentu harga sagu dapat bersaing dan mensejahterakan petani. Terlebih sagu juga bisa berfungsi menjaga lingkungan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan merupakan pangan sehat sehingga sagu bukan saja menjaga ketahanan pangan tetapi juga kedaulatan pangan Tanah Air. (don)


Nasi Sagu Sagu Meranti Krisis Beras

Loading...

Related Post