Heboh Pasar Muamalah di Kota Depok, Dikaitkan dengan Khilafah, Transaksinya Pakai Dirham, Dinar, atau Barter

Heboh Pasar Muamalah di Kota Depok,  Dikaitkan dengan Khilafah,  Transaksinya Pakai Dirham, Dinar, atau Barter
Aktivitas di Pasar Muamalah, Beji, Depok, Transaksi pakai dinar dan dirham (Istimewa)
Editor : Donald News — Jumat, 29 Januari 2021 14:26 WIB
terasjakarta.id


Sebuah pasar bernama   Pasar Muamalah yang berada di kawasan i Beji, Kota Depok bikin hebon dan menjadi   perbincangan di jagad media sosial. Pasalnya, ada yang mengaitkan keberadaan ini  dengan  munculnya khilafah di Depok.  Salah satunya diunggah YouTube channel Kanal Anak Bangsa T

Sebuah pasar bernama   Pasar Muamalah yang berada di kawasan i Beji, Kota Depok bikin hebon dan menjadi   perbincangan di jagad media sosial. Pasalnya, ada yang mengaitkan keberadaan ini  dengan  munculnya khilafah di Depok.  Salah satunya diunggah YouTube channel Kanal Anak Bangsa Tv.

Dilansir akun YouTube tersebut,  Rudi S Kamri mengatakan dari literasi yang dia dapat bahwa di Kota Depok ada Pasar Muamalah dengan sistem khilafah. “Saya buka-buka referensi di Depok ini sudah 10 tahun ada Pasar Muamalah. Transaksinya sistem khilafah,” ujar Rudi
Lokasi pasar di Jalan Raya Tanah Baru, Beji hanya ada beberapa ruko saja. Di sana salah satunya ada toko madu yang dikelola Parman. Informasi yang didapat di lokasi, Pasar Muamalah itu memang ada. Transaksinya memang menggunakan emas dan perak. Namun, ternyata para penjual di sana juga menerima rupiah sebagai alat tukar transaksi. Jika ada orang yang tidak punya uang, maka bisa dilakukan dengan sistem barter.

“Iya memang ada pakai dirham dan dinar. Tapi, kami juga terima rupiah. Bahkan kalau memang benar-benar tidak ada uang ya bisa pakai beras untuk barternya,” katanya.
Anto salah satu pedagang di komunitas tersebut mengakui sistem barter masih mereka gunakan untuk transaksi. Sedangkan untuk uang dirham juga bisa digunakan. Untuk madu yang dia jual misalnya dipatok harga 2 dirham atau setara Rp150 ribu. “Ya gitu barter. Itu (dirham) kalau yang bisa (punya) saja. Yang ngga bisa ya pakai barter,” ucapnya.

Pasar Muamalah dijual aneka kebutuhan, mulai dari madu hingga sembako. Untuk madu yang dijual terdiri dari jenis akasia, trigona dan lainnya. Pasar tersebut biasanya hadir tiap hari Minggu, namun tidak tetap. “Minggu. Sebulan gak nentu juga. Ada madu, roti. Pada umumnya kebutuhan pokok kayak beras minyak goreng, sabun,” sebut Anto.

Penjual berasal dari mana saja karena tidak ada syarat khusus dan uang sewa untuk berjualan di sini. “Syarat ngga ada. Di sini bebas, bebas sewa, ga dipungut biaya. Dari kalangan mana aja mereka boleh dagang,” tuturnya. (don/sumber Sindonews)
Dilansir akun YouTube tersebut,  Rudi S Kamri mengatakan dari literasi yang dia dapat bahwa di Kota Depok ada Pasar Muamalah dengan sistem khilafah. “Saya buka-buka referensi di Depok ini sudah 10 tahun ada Pasar Muamalah. Transaksinya sistem khilafah,” ujar Rudi


Lokasi pasar di Jalan Raya Tanah Baru, Beji hanya ada beberapa ruko saja. Di sana salah satunya ada toko madu yang dikelola Parman. Informasi yang didapat di lokasi, Pasar Muamalah itu memang ada. Transaksinya memang menggunakan emas dan perak. Namun, ternyata para penjual di sana juga menerima rupiah sebagai alat tukar transaksi. Jika ada orang yang tidak punya uang, maka bisa dilakukan dengan sistem barter.

“Iya memang ada pakai dirham dan dinar. Tapi, kami juga terima rupiah. Bahkan kalau memang benar-benar tidak ada uang ya bisa pakai beras untuk barternya,” katanya.

Anto salah satu pedagang di komunitas tersebut mengakui sistem barter masih mereka gunakan untuk transaksi. Sedangkan untuk uang dirham juga bisa digunakan. Untuk madu yang dia jual misalnya dipatok harga 2 dirham atau setara Rp150 ribu. “Ya gitu barter. Itu (dirham) kalau yang bisa (punya) saja. Yang ngga bisa ya pakai barter,” ucapnya.

Pasar Muamalah dijual aneka kebutuhan, mulai dari madu hingga sembako. Untuk madu yang dijual terdiri dari jenis akasia, trigona dan lainnya. Pasar tersebut biasanya hadir tiap hari Minggu, namun tidak tetap. “Minggu. Sebulan gak nentu juga. Ada madu, roti. Pada umumnya kebutuhan pokok kayak beras minyak goreng, sabun,” sebut Anto.

Penjual berasal dari mana saja karena tidak ada syarat khusus dan uang sewa untuk berjualan di sini. “Syarat ngga ada. Di sini bebas, bebas sewa, ga dipungut biaya. Dari kalangan mana aja mereka boleh dagang,” tuturnya. (don/sumber Sindonews)

Pasar Muamalah Depok Khilafah Transaksi Dirha Dinar Barter

Loading...

Related Post