Seram tapi Menakjubkan! Museum Taman Prasasti, Ikon Sejarah dan Cagar Budaya yang Dipenuhi Nisan dan Makam Berdesain Eropa

Seram tapi Menakjubkan! Museum Taman Prasasti, Ikon Sejarah dan Cagar Budaya yang Dipenuhi Nisan dan Makam Berdesain Eropa
Museum Taman Prasasi dipenuhi patung dan nisan, terkesan seram tapi menakjubkan (Foto: Republika)
Editor : Donald Traveling — Jumat, 29 Januari 2021 10:34 WIB
terasjakarta.id


Taman Prasasti ditata dengan konsep terbuka. Pengunjung bisa melihat beragam koleksi nisan, patung, dan juga makam dengan desain khas Eropa.

Bicara soal Jakarta dan panoramanya, tak akan lengkap jika hanya berjalan-jalan dan menikmati hidangan di restoran. Kamu juga harus singgah di berbagai destinasi wisata unik dan menarik yang hanya ada di Jakarta.

Tidak perlu membutuhkan banyak waktu menentukan pilihan ingin mengunjungi destinasi wisata apa di Jakarta, karena wisata sejarah, wisata buatan dan ragam wisata lain siap memanjakan mata.

Misalnya saja Museum Taman Prasasti yang jadi ikon sejarah dan cagar budaya masa Peninggalan Belanda. Disini, kamu akan diajak menelisik lebih dalam tentang keunikan dari tempat wisata ini.

Tak seperti museum pada umumnya, Taman Prasasti ditata dengan konsep terbuka. Di lokasi seluas 1,5 hektar, pengunjung bisa melihat beragam koleksi nisan, patung, dan juga makam dengan desain khas Eropa. Semuanya diambil dari peninggalan Belanda semasa penjajahan.

Namun,  meski terkesan seram, Museum Taman Prasasti selalu ramai didatangi pengunjung. Selain lokasinya bagus untuk berfoto-foto, tempat ini juga menawarkan banyak cerita sejarah yang selalu menarik untuk disimak.

Tak perlu heran jika melihat ada banyak nisan atau makam di Museum Taman Prasasti. Sebab dulunya tempat ini memang merupakan bekas kuburan Jahe Kober, dibangun untuk menggantikan kuburan di samping Gereja Nieuw Hollandsche Kerk (Museum Wayang) yang sudah penuh.

Nisan yang ada di sini sebagian berasal dari Jahe Kober dan sebagian lagi adalah pindahan dari Hollandsche Kerk.

Luas pekuburan Jahe Kober sendiri awalnya mencapai 5,5 hektar. Namun sejak diresmikan pada tahun 1975 silam, luasnya kini hanya tinggal tersisa 1,5 hektar karena pembangunan dan perkembangan kota. Inisiatif untuk menjadikan lokasi ini sebagai museum muncul pada tahun 1977.

Sejak saat itu, pengunjung bebas datang ke sini untuk mengagumi beragam prasasti, nisan, dan makam yang terbuat dari perunggu, marmer, dan batu alam. Menurut data dari beberapa sumber, Museum Taman Prasasti memiliki tak kurang dari 1.372 koleksi.

Di antara seribuan lebih makam dan nisan yang ada di Museum Taman Prasasti, beberapa di antaranya menjadi tempat peristirahatan terakhir beberapa tokoh terkenal semasa Pemerintahan Belanda dan juga dari Indonesia.

Salah satunya adalah makam keluarga A.J.W Van Delden, yang berbentuk seperti rumah. Van Delden sendiri diketahui pernah menjadi Ketua Perdagangan VOC dan juru tulis di Indonesia Timur.

Selain itu masih ada makam Olivia Mariamne Raffles. Dari nama belakangnya saja kita sudah bisa menebak bahwa beliau adalah istri Sir Thomas Stamford Raffles, seorang negarawan terkenal dari Inggris. Makam Olivia sendiri tampak mencolok karena terbuat dari batu andesit.

Nisan tokoh pemuda terkenal Indonesia, Soe Hok Gie, juga bisa ditemukan di sini. Penanda tempat peristirahatan terakhir alumnus Universitas Indonesia tersebut dihiasi dengan patung malaikat kecil. Selain itu masih ada makam Miss Riboet, yang konon merupakan salah satu artis opera terkenal di era 1930-an.

Karena terdapat banyak nisan dan makam, dulunya sebagian orang menganggap Museum Taman Prasasti sebagai tempat angker. Padahal sebenarnya di lokasi ini sama sekali tidak ada tulang belulang maupun jenazah, yang tersisa hanya batu nisan saja.

Museum Taman Prasasti juga pernah dijadikan sebagai lokasi menggelar kegiatan ‘Night at The Museum’, yang digagas oleh Komunitas Historia Indonesia. Dalam kesempatan ini para peserta diajak untuk berkeliling areal museum di malam hari. Tidak ada penerangan lain kecuali senter yang dibawa masing-masing peserta.

Namun kegiatan ini sengaja dilakukan di malam hari bukan untuk memberikan suasana mistis atau semacamnya. Sebab menurut panitia, para peserta justru akan lebih khidmat dan mendengarkan penjelasan historis soal Museum Taman Prasasti dengan cara ini.

Kamu penasaran ? Kamu dapat mengunjunginya di Jalan Tanah Abang No. 01, Jakarta Pusat. Lalu untuk waktu bukanya mulai pukul 09.00 – 15.00 pada Selasa sampai Minggu, ingat terapkan protokol kesehatan. Untuk harga tiket masuk Museum Taman Prasasti dikenakan biaya Rp5.000 untuk dewasa, Rp3.000 untuk mahasiswa dan Rp2.000 untuk pelajar. (Adt)

 

Seram Menakjubkan Museum Taman Prasasti Ikon Sejarah Cagar Budaya Nisan Makam Eropa

Loading...

Related Post