Pipis Keluar Sendiri Tanpa Bisa Ditahan, Begini Cara Mengatasinya

Pipis Keluar Sendiri Tanpa Bisa Ditahan, Begini Cara Mengatasinya
Ilustrasi (ist)
Editor : Potan Jakarta Style — Jumat, 29 Januari 2021 07:33 WIB
terasjakarta.id

Tanpa disengaja air seni keluar tanpa bisa ditahan. Jika iya, berarti ada gejala Overactive Bladder atau disebut OAB di dalam kandung kemih anda. Lalu apa itu OAB dan apa penyebabnya?

Dokter Spesialis Urologi-Konsultan Urologi Wanita dan Neoro-Urologi dr. Harrina E Rahardjo , Sp. U ( K) , Phd., dari Siloam Hospitals Asri menjelaskan, kandung kemih overaktif atau overactive bladder (OAB) adalah masalah pada fungsi penyimpanan kandung kemih yang menyebabkan dorongan untuk buang air kecil secara mendadak dan tidak bisa dikontrol atau keluarnya urine tanpa disadari (inkontinensia urine).

“Penyebab utama adalah pada overactive bladder, terdapat kesalahan pengiriman sinyal antara otak dan kandung kemih. Otot kandung kemih berkontraksi terlalu awal walaupun kandung kemih belum penuh. Kontraksi ini memicu rasa ingin buang air kecil lebih sering dari biasanya,” tutur dr Harrina E Rahardjo, Sp. U(K) , Phd., melalui Webinar Kesehatan yang diselenggarakan Manajemen Siloam Hospitals Asri dengan tema “Jangan Anggap Sepele, Wanita Sering “Pipis” atau “Beser”, Kamis (28/01/2021), di Jakarta Selatan.

Dalam presentasinya, Herina menjelaskan, organ ginjal berfungsi menyaring darah dan menghasilkan urine. Urine yang terbentuk lalu dialirkan menuju kandung kemih untuk ditampung sementara. Pada ujung kandung kemih, terdapat sfingter (otot berbentuk cincin) yang menahan urine agar tidak keluar. “Secara normal, ketika kandung kemih mulai penuh, otak akan mengirimkan sinyal menuju saraf kandung kemih untuk segera buang air kecil. Otot kandung kemih pun berkontraksi (meremas), sfingter terbuka, dan urine akhirnya keluar dalam proses buang air kecil,” imbuh dia.

Dia mengatakan, terdapat sejumlah kondisi penyebab overactive bladder. Pertama, gangguan saraf, akibat stroke atau multiple sclerosis. Kedua, infeksi saluran kemih dengan gejala yang mirip kandung kemih overaktif. Ketiga, perubahan hormon selama menopause. Keempat, kerusakan saraf akibat penyakit diabetes. Kelima, adanya tumor atau batu pada kandung kemih.

Keenam, pembesaran prostat, sembelit, atau efek samping operasi dan konsumsi obat-obatan yang meningkatkan produksi urine. “Mengkonsumsi alkohol serta kafein atau terjadi penurunan fungsi kandung kemih seiring bertambahnya usia,” ungkap Harrina.

Overactive bladder atau OAB merupakan sebuah gangguan dan umum dialami manusia lanjut usia. Meski demikian, hal ini bukan berarti boleh dianggap wajar. Jika gejala yang Anda alami mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, Harrina menyarankan agar segera ke dokter guna konsultasi untuk penyembuhannya.

“Dari sisi pengobatan, bisa melalui pemberian obat paska ditemukan adanya OAB, penggunaab terapi dan alat. Contohnya penanganan latihan otot dasar panggul lalu stimulasi syaraf,” sebut Harrina.

Secara spesifik, penanganan OAB dapat dilakukan dengan sejumlah langkah. Seperti, Anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan tambahan, seperti cek urine, catatan harian berkemih (applikasi di playstore android), quesioner bergejala, Past Void residual. Pemeriksaan radiologi, yaitu USG.

“Mencegah lebih baik dari pada mengobati, karenanya dengan terapi prilaku gaya hidup dan diiringi dengan mengurangi konsumsi kafein, menjaga berat badan, olahraga atau senam dan berhenti merokok merupakan langkah yang ideal,” pungkas Harrina.(tan)



Pipis Keluar Sendiri m Tanpa Bisa Ditahan Begini Cara Mengatasinya

Loading...

Related Post