Sejarah Soto Tangkar, Soto Sejak Zaman Melarat di Era Penjajahan

Sejarah Soto Tangkar,  Soto Sejak Zaman Melarat di Era Penjajahan
Soto Tangkar khas Betawi sudah ads sejak jaman penjajah (Foto: Istimewa)
Editor : Donald Jakarta Food — Senin, 25 Januari 2021 09:23 WIB
terasjakarta.id


Indonesia memang kaya akan berbagai aneka kuliner.  Salah satu kuliner Indonesia yang kesohor adalah Soto. Pun demikian dengan menu soto ini sendiri, setiap daerah di Indonesia punya ciri khas soto denga cita rasa khas  daerah masing-masing, termasuk jenis daging  yang  dan anek   bahan tambahan  lainnya.

Misalnya soto kudus (Kudus, Jawa Tengah), Soto Bangkong (Semarang, Jawa Tengah), Soto Sulung (Jawa Timur), Soto Mie (Jawa Barat), Soto Makassar (Sulawesi Selatan), dan masih  banyak lagi jenis masakan soto dari daerah lainnya yang tidak bisa kita sebutkan  satu persatu.

Masyarakat Betawi sebagai penghuni asli Tanah Batavia atau  Kota Jakarta ini juga punya menu soto andalan yang disebut  atau dikenal  dengan nama Soto Tangkar

Nama tangkar sendiri adalah sebutan untuk iga sapi  dalam Bahasa Betawi pada zaman penjajah Belanda. Sampai  sekarang masih dipergunakan, meskipun sudah jarang diketahui oleh generasi saat ini.

Menurut sejarahnya, pada zaman penjajahan Belanda, ketika para meneer Belanda akan mengadakan pesta, mereka biasanya memotong sapi untuk pesta tersebut.

Para meneer akan menyisahkan bagian-bagian tertentu dari sapi yang dipotong untuk diberikan kepada para pekerja di antaranya adalah, bagian kepala, bagian dalam (paru-paru, usus, babat, dll),  serta  iga. Jadi, boleh dikatakan soto tangkar ketika itu adalah  menu atau lauk pauk untuk kalangan bawah.

Oleh para pekerja tersebut, bagian-bagian itu diolah menjadi makanan yang beragam dan salah satu bagian yaitu iga diolah menjadi makanan yang khas, iga tersebut direbus atau dimasak selama kurang lebih dua jam setelah itu dimasukkan  bumbi atau rempah-rempah, seperti kunyit, lada, daun sereh, danin salam,  dan santan kelapa. Maka jadilah makanan yang berkuah yang disebut Soto Tangkar.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi hanya mampu membeli tangkar berupa potongan iga yang berdaging sedikit, karena bagian daging sapi yang lain sudah diambil oleh masyarakat penjajah Belanda.

Penggunaan tulang iga ini juga salah satunya dikarena pada saat zaman penjajahan dulu ekonomi masih belum stabil, dan banyak orang yang masih tidak mampu untuk membeli daging sapi. Hanya orang-orang kaya pada masanya yang bisa membeli daging sapi, sedangkan rakyat biasa cukup menggunakan potongan tangkar yang dimasak menyerupai soto Betawi. Santan yang dipakai juga tidak sekental soto Betawi, sehingga rasanya jauh lebih ringan dan tidak gurih berlebihan.

Seiring waktu berjalan, soto tangkarpun mengalami perkembangan, termasuk jenis daging  yang dibuat yang tidak lagi sebatas babat, iga atau jeroan,  dan lainnya.  Tak hanya itu saja, soto tangkar juga mengalami percampuran budaya antara banyak bangsa yang datang ke Betawi seperti Tionghoa,  India dan Arab. (don)

 

Masyarakat Betawi sebagai penghuni asli Tanah Batavia atau Kota Jakarta ini juga punya menu soto andalan yang disebut atau dikenal dengan nama Soto Tangkar.

Loading...

Related Post