Lemang Khas Bukitinggi di Jalan Kramat Raya, Rasanya Menggugah Selera

 Lemang Khas Bukitinggi di Jalan Kramat Raya, Rasanya Menggugah Selera
Lemang Bukittinggi
Editor : Donald Jakarta Food — Jumat, 15 Januari 2021 10:42 WIB
terasjakarta.id


Bagi Anda pecinta kuliner khas Tanah Minang, tidak ada salahnya Anda menyambangi Lokasi Binaan (Lokbin) JP 34 di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat.

Selain terkenal sebagi sentra penjual nasi kapau, di tempat ini kita juga bisa menikmati lemang dengan cita rasa yang khas dan menggugah selera.

Lemang, umumnya dibuat berbahan dasar ketan dan santan. Keunikannya terletak pada cara memasaknya yang menggunakan bambu dan dibakar dengan teknik tertentu hingga berjam-jam.

Di kota asalnya, makanan ini sangat populer hingga kota tersebut dijuluki sebagai kota lemang. Saking populer kudapan ini di Tebing Tinggi, pemerintah setempat melestarikannya dengan rutin menggelar acara kuliner bertajuk lemang.

Proses pemasakannya memakan waktu mencapai empat jam. Makanan ini dibuat dari bahan baku beras ketan dan dimasak dengan cara dibungkus oleh daun pisang, kemudian dibakar pada bambu. Setelah sudah kelihatan masak dan bambu sudah menunjukan kehitaman, barulah siap disantap.

Pemilihan bambu yang digunakan juga tidak sembarangan. Bambu yang dibutuhkan adalah harus bambu yang berkulit tebal karena harus tahan saat dibakar, jika berkulit tipis dapat merusak rasa lemang itu sendiri. 

Aroma yang ditimbulkan dari kudapan ini juga sangat khas karena berasal dari daun pisang dan bambu yang dibakar, serta rasa gurih yang ada karena pengaruh dari santan dalam pembuatannya.

Seorang penjaja makanan Lemang di Kramat Raya, Novi mengaku sehari bisa menghabiskan 80 batang bambu Lemang. Bahkan, di akhir pekan, ia bisa menghabiskan hingga 100 lebih batang bambu nasi ketan Lemang.

Menurutnya, proses pembuatannya pun tak sebentar. Untuk membuatnya memakan waktu sekitar 4 hingga 5 jam. Caranya, potongan bambu berukuran 30 cm diberikan alas daun pisang di dalamnya. Kemudian, dimasukkan tirisan beras ketan yang sudah direndam dengan santan kelapa dan dibumbui garam selama satu jam.

Beras ketan yang dimasukkan dalam tabung bambu hanya diisi sekitar 30 persen. Setelah itu dibakar dengan alat mirip pembakaran sate lebih besar. Setelah tabung berubah warna hitam pekat, kemudian diangkat dan ditiriskan.

Sambil menunggu Lemang matang, lanjut Novi, bapaknya membuat bumbu Lemang yang terbuat dari tapai ketan hitam dengan rasa asam manis. Harga sebatang bambu lemang diberi harga Rp 50 Ribu. Bisa untuk 2 hingga 3 porsi.

“Satu batang bambu lemang cukup besar. Bisa untuk dua tiga orang kalau dibawa ke rumah,” tuturnya.

Pedagang lemang lain, Empeng (56) menuturkan, dalam satu hari dirinya bisa menjual 15 lonjor lemang berukuran sekitar 30 sentimeter. "Agar lebih nikmat lemang biasanya disantap bersama dengan tapai yang sudah difermentasi. Makanya lebih sering disebut lemang tapai," ujarnya.

Menurutnya, omzet penjualan lemang tapai biasanya akan meningkat saat Ramadan karena banyak dinikmati untuk makanan berbuka puasa. "Peningkatannya bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa," terangnya.

Sementara, seorang penikmat Lemang, Indra Gandhi (37), yang beristrikan wanita Padang, Sumatera Barat, mengaku kerap mampir ke Sentra Kuliner Bukittinggi di Jalan Kramat Raya No. 34.

Penggemar Lemang itu mengaku ingin membandingkan masakan Lemang yang ada di deretan lapak PKL di Jakarta, dengan lemang buatan istrinya yang asli orang Padang. "Ingin coba aja, bandingin rasanya sama buatan istri," kata Indra.

 

Bagi Anda pecinta kuliner khas Tanah Minang tidak ada salahnya Anda menyambangi Lokasi Binaan (Lokbin) JP 34 di Jalan Kramat Raya Senen Jakarta Pusat.

Loading...

Related Post