Advertisement

“Sarinah” Kembali Menginspirasi UKM

“Sarinah” Kembali Menginspirasi UKM
Wakil Sekjen LKN Suryad M.Si (kiri) dan Ketua LKN Dr. Usmar (kanan)
Editor : Donald Anda Menulis — Kamis, 14 Januari 2021 02:46 WIB
terasjakarta.id


Suryadi, M.Si dan Dr. Usmar

Wakil Sekjen dan Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN)

 

“Bung Karno itu tidak cinta pada siapa-siapa, juga tidak pada istri-istrinya. Dia cuma cinta pada dirinya, pada gagasannya…,” suatu ketika  seorang Indonesia pengamat politik dan militer berkata begitu.

 Akan tetapi,  17 tahun setelah proklamasi kemerdekaan RI, Presiden I RI   Sukarno (Bung Karno) mewujudkan gagasannya membangun  Pusat Perbelanjaan I di Indonesia ‘Sarinah’. Siapa sesungguhnya  yang dicintai oleh arsitek lulusan de Techniche Hoogeschool  te Bandoeng (THs), Juli 1926 itu?  

 

MANUSIA dalam kerumunan yang biasa berdemonstrasi memacetkan lalu-lintas sepanjang Jalan M.H. Thamrin - Jalan Merdeka Barat hingga sekitaran Istana Merdeka dan Kawasan Monas, pasti akrab dengan ‘Sarinah’.

Demikian pula mereka yang bekerja di gedung-gedung sekitarnya, seperti di Jalan-jalan K.H. Wahid Hasyim, H. Agus Salim/ Sabang, dan Jalan Sunda yang memisahkan ‘Sarinah’  dengan Kedubes Prancis. Di hari-hari kerja, termasuk penulis dan teman-teman sekerja saban tiba waktu makan siang, rutin cari warung-warung murah pinggir jalan sekitar situ.

Sejak Februari 2020 hingga kini, keadaan berubah seiring serbuan virus Corona penjangkit Covid-19. Artinya, sudah memasuki 10 bulan Indonesia menjadi satu di antara 222 negara yang banyak penduduknya terpapar Covid-19. Pembatasan sosial dilakukan. Akibatnya, di Jakarta termasuk sekitaran ‘Sarinah’ berubah pula menjadi lengang. 

Mencoloknya ‘Sarinah’ kini beda dengan sampai sebelum Februari 2020. Posisinya  di pojokan hingga membentuk leter “L” pertemuan Jln. M.H. Thamrin – Jln. Wahid Hasyim (berseberangan dengan Jakarta Theater), kini tak lagi menampakkan kekhasannya. Kecuali julangan 15 lantai bangunan, yang tampak malah tumpukan puing-puing bangunan merusak pemandangan. Tampak pula para pekerja bangunan sibuk ke sana ke mari.

Sejak Juni 2020, perencanaan renovasi dan revitalisasi pusat perbelanjaan tertua di Indonesia itu sudah disusun. Sebuah BUMN dilibatkan merenovasinya. Sekitar Rp 700 miliar disiapkan untuk itu. Si empunya gawe, Menteri BUMN Erick Tohir dan Fetty Kwartati, Dirut PT. Sarinah (Pesero), berancang-ancang ‘Sarinah Baru’ akan selesai November 2021. Rencananya, saat  rampung kelak, yang didapati bukan lagi cuma seonggok pusat perbelanjaan, melainkan untaian aktivitas ke-Nusantaraan. 

Dengan pendekatan seperti itu, ‘Sarinah’ menjadi konsisten sebagai pusat kegiataan bagi  usaha kecil menengah (UKM), seperti cita-cita si penggagasnya dulu. Untuk itu pula, Kementerian Koperasi UKM juga dilibatkan. Dalam webinar bertajuk ‘Wanita Indonesia dalam Pemulihan Pariwisata Indonesia Berorientasi Global’ (Senin, 28/09/2020), Direktur Pengembangan Bisnis ‘Sarinah’, Permana Lestari mengatakan, ‘Sarinah’ akan dibentuk seoptimal mungkin sehingga ‘ke Jakarta itu ya ke Sarinah’. Diproyeksikan, ‘Sarinah’ menjadi salah satu ikon kebanggaan nasional. Mirip dengan Harrods di London, Inggris. 

Kelak pada hari-hari libur, di situ akan ada pagelaran berbagai kesenian. Bukan cuma pameran lukisan atau videografi, tapi di situ juga diberi ruang bagi peluncuran film-film produksi nasional. Dengan demikian ‘Sarinah’ akan mampu menjadi pendorong terbentuknya semacam culture education community. Tentu, bukan khayal.

 

Kebudayaan dan Simbol

‘SARINAH’, jika sesuai jadwal, baru akan rampung dan beroperasi pada November 2021. Pekerjaan fisik tampak tengah dimulai. Kabar renovasi mencuat beriringan dengan pemberitaan media tentang ditemukannya sejumlah relief di dalam struktur bangunan lama ‘Sarinah’. Ada dugaan relief tersebut, dirancang sepaket dengan pembangunan ‘Sarinah’ oleh Bung Karno, sang penggagas. 

Relief saat ditemukan berada di belakang gerai (tenan) restoran cepat saji. Tepatnya, di ruang mekanikal dan elektrikal ‘Sarinah’. Relief menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia masa prakemerdekaan. Mereka tak mengenakan alas kaki. Di antaranya wanita berkebaya dengan bahu terbuka. Ada pula yang mengenakan caping. Pada bagian relief yang mengurai dalam diorama itu, juga tergambar petani sedang membawa hasil panen, selain nelayan dan pedagang.

Situasi perekenomian saat ‘Sarinah’ dibangun tahun 1962, tentu sangat berbeda dengan  ketika  tahun 2020 – 2021 direnovasi. Kini  Indonesia tengah mengalami dampak ekonomi yang muncul setelah berlarutnya dampak pembatasan, menyusul serbuan Covid-19. Kendatipun demikian, kini beragam  aktivitas perekonomian termasuk industri masih berjalan. Macam-macam kebutuhan dalam negeri masih terbiayai, meski beban negara cukup berat. 

Indonesia merdeka 18 Agustus 1945. Sebagai negara yang baru lepas dari kolonial, Indonesia mengalami kesulitan ekonomi yang amat berat. Situasi internasional yang terkait dengan kebutuhan penjajah, sangat berpengaruh. Selain itu, di dalam negeri jalannya pemerintahan Indonesia kental diwarnai oleh berlarut-larutnya ketidakstabilan politik. Ujung-ujungnya kabinet demi kabinet sering jatuh-bangun. Dalam kurun 1950 – 1960-an, masih sering terjadi pemberontakan seperti DI/TII dan PRRI Permesta, selain juga harus membiayai operasi Trikora untuk merebut Irian Barat dari Belanda. Sementara, perekonomian sangat bergantung pada pertanian ketimbang industri. Dalam keadaan yang demikian, pembangunan di bidang ekonomi menjadi banyak terabaikan (bukan tidak ada). Jauh-jauh dari maksimal.  

Sumitro Djojohadikusumo yang pulang ke Tanah Air sekitar Mei-Juni 1950 dan diangkat menjadi Menteri Perdagangan dan Industri, Kabinet Natsir, menggulir Rencana Urgensi Perekonomian. Kemudian dikembangkan menjadi program pengembangan industri Indonesia yaitu Rencana Urgensi Perindustrian (RUP) 1951 – 1952. Dengan itu, Pemerintah akan memusatkan pada pendirian “industri kunci” seperti pertahanan, kimia, semen, tenaga listrik, dan pengangkutan. Prinsip pokoknya, melepaskan ketergantungan pada dunia luar dan berusaha memenuhi kebutuhan rakyat dari produksi dalam negeri. Selanjutnya, diharapkan dapat menghasilkan produksi barang impor atau substitusi impor (Esmara dan Cahyono, 2000: 136 – 146).     

Akan tetapi, ekonomi Indonesia tetap payah. Hal itu, kata A.R. Soehoed dalam Industrialisasi Indonesia, tak mengherankan. Sebab, indsutri manufaktur sebagian besar ditentukan oleh pabrik-pabrik yang sudah ada sebelum perang, bertumpu pada konsep-konsep perekonomian kolonial. Kecil sekali kemajuan yang dicapai dalam pengembangan industri selama 1950-an dan 1960-an. Ini disebabkan oleh alat yang tidak memadai, selain kurangya devisa untuk mengimpor bahan mentah dan suku cadang, kurangnya dana lokal untuk biaya kerja sehari-hari (‘runing cost”). Juga, terjadi kenaikan cepat harga-harga bahan mentah dalam negeri, biaya transpor, dan layanan publik lainnya. Thee Kian Wie melanjutkan, ini akibat dari hiperinflasi yang memorak-poradakan pereknomian Indonesia (Wie, 1994: 28). Wie dalam Pelaku Berkisah, mengutip catatan Greenvile menyebut, inflasi melonjak dengan kecepatan amat mengkhawatirkan pada awal 1960-an. Inflasi dari 19% meroket hingga puncaknya 636% pada 1966 (Wie, 2005: xlii). Sementara penduduk terus bertambah. Menurut sensus pertama tahun 1961, jumlah penduduk Indonesia 97.018.029 jiwa, di antaranya 2.909.533 jiwa penduduk DKI.   

Di antara tahun-tahun sulit itu lah, ‘Sarinah’ digagas Bung Karno dan dibangun melalui PT. Sarinah (Pesero), BUMN yang didirikannya pada 17 Agustus 1962. BUMN ini digagas oleh Bung Karno untuk mewadahi kegiatan perdagangan produk dalam negeri serta mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia.  Peresmian Gedung Sarinah dilakukan 15 Agustus 1966 untuk menandai kehadirannya sebagai pusat perbelanjaan I di Indonesia. 

Mengemban amanat Bung Karno, ‘Sarinah’ harus menjadi pusat perdagangan dan promosi barang-barang produksi dalam negeri, utamanya hasil pertanian dan industri rakyat. Kini ‘Sarinah’ tengah direnovasi dengan tujuan merevitalisasi pemanfaatannya untuk  mendukung kemajuan produk-produk usaha kecil, menengah, dan koperasi. 

Capaian tujuan tersebut tentu harus efektif bagi kemanfaatan memacu kebangkitan ekonomi Indonesia. Mereka yang pertama-tama merasakan haruslah rakyat. Mereka itu, menurut data Kemendagri per Juni 2020 berjumlah 268.583.016 jiwa. Sebanyak 11.100.929 jiwa di antaranya penduduk Ibu Kota Jakarta –tempat berdirinya ‘Sarinah’. Beda jauh jumlah penduduknya dibandingkan dengan Indonesia 60 tahun lalu. Bedanya tiga kali lipat. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia dalam 60 tahun terakhir sekitar 171 juta jiwa atau rata-rata per tahun tak kurang dari 2.850.000 jiwa. Untuk DKI Jakarta saja dalam kurun yang sama rata-rata 80 ribu jiwa lebih per tahun.  

‘Sarinah’ adalah produk kebudayaan yang digagas oleh Bung Karno. Ia tak bisa dilihat cuma sebagai seonggok bangunan atau sekadar pusat perbelanjaan. Ia merupakan perwujudan dari cita-cita si penggagas yang terinspirasi oleh perempuan pengasuh di masa kecilnya, Sarinah --simbol rakyat kebanyakan di negeri ini. Simbol, tulis sosiolog Sindung Haryanto dalam Dunia Simbol Orang Jawa (2013: 1), mempunyai kaitan erat dengan kebudayaan manusia. Membaca simbol-simbol butuh kearifan!  **

 

MANUSIA dalam kerumunan yang biasa berdemonstrasi memacetkan lalu-lintas sepanjang Jalan M.H. Thamrin - Jalan Merdeka Barat hingga sekitaran Istana Merdeka dan Kawasan Monas pasti akrab dengan ‘Sarinah’

Loading...

Related Post