Advertisement

Pesawat Sriwijaya Air Jatuh, Longsor Sumedang, Musibah Beruntun di Awal Tahun Kerbau Logam

Pesawat Sriwijaya Air Jatuh, Longsor Sumedang, Musibah Beruntun di Awal Tahun Kerbau Logam
Shio ciong 2021. ( Freepik)
Editor : Donald Berita Anda — Minggu, 10 Januari 2021 17:15 WIB
terasjakarta.id


Musibah  demi musibah terjadi secara beruntun di awal tahun Kerbau Logam 2021 ini. Pada Sabtu (9/1/2021) dua musibah berntun terjadi secara bersaman. Pesawat Swirijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182 jatuh di perairan pulau Seribu, Jakarta Utara.

Selang beberapa jam kemudian atau pada sabtu malam,  musibah tanah longsor menimbun hidup-hidup belasan warga di wilayah Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Mirisnya, dalam musibah ini Komndan Rayon Militer (Danramil) Cimanggung, Kapten Infanteri Setio Pribadi ikut  menjadi korban tanah longsor 

Situasi ini   membuat pemrintah harus bekerja keras dalam menangani kedua musibah ini. Apalagi, saat ini kondisi bangsa Indonesia sedang terpuruk akibat pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir. Bahkan, di awal tahun justru penyebarang virus  corona malahh kian menngkat yang membuat pemerintah memberlakukan pembatasan sosial berskalah besar untuk kawasan Jawad an Bali mulai 11 Januari hingga 25 Januari.

Musibah tanah longsor terjadi di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat ini terjadi  Sabtu sore sekitar pukul 16.00 WIB. Atau  hanya selamng beberapa  jam setelah pesawat Sriwijaya Air dinyatakan hilang kontak

Menyusul kejadian ini, Beberapa petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumedang dibantu unsur TNI menuju lokasi untuk melakukan evakuasi korban.

Proses Evakuasi berlangsung hingga malam. Nahas terjadi, sekitar pukul 19.00 tanah longsor kembali terjadi di lokasi yang sama. Akibatnya, beberapa warga, termasuk Danramil Cimanggung, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumedang, serta beberapa warga ikut tertimbun longsorang kedua tersebut. Total, sebanyak 11 warga menjadi korban jiwa dan 18 lainnya luka-luka.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati, Minggu (10/1/2021), mengatakan, longsoran pertama dipicu curah hujan tinggi dan kondisi tanah tidak stabil. Longsor susulan terjadi pada saat petugas masih melakukan evakuasi korban di sekitar area longsoran pertama.

Terkait musbiah ini Kementerian Sosial (Kemsos) telah menyalurkan bantuan Rp 1 miliar. Selain menyalurkan bantuan, penanganan bencana ini juga bersinergi dengan unsur-unsur penanganan bencana lainnya seperti taruna siaga bencana (tagana) untuk evakuasi korban bencana longsor.

Kemsos melalui Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam (PSKBA) telah melakukan sejumlah langkah penting.

"Sejak bencana terjadi, kami melalui tagana telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial di wilayah terdampak tanah longsor tentang aktivitas penanganan dan mengamati situasi terkini," kata Direktur PSKBA Syafii Nasution, di Sumedang, Minggu

Dalam keterangan tertulisnya, ia menambahkan, langkah selanjutnya adalah pengerahan tagana dan unsur Kampung Siaga Bencana (KSB) untuk melakukan pendataan korban, evakuasi korban ke tempat aman khususnya kepada kelompok rentan yang terdiri atas lansia, anak-anak, penyandang disabilitas, dan kelompok khusus lainnya.

 

Dua musibah besar pesawat Sriwijaya Air jatuh dan tanah longsor di Sumedang terjadi secara beruntun di tahun Kerbau Logam dalam penanggalan China ini.

Loading...

Related Post