Pesawat Tipe Boeing 737 Rawan Mati Mesin di Udara

Pesawat Tipe Boeing 737 Rawan Mati Mesin di Udara
sriwijaya air. jetphoto.net
Editor : Donald Berita Anda — Sabtu, 9 Januari 2021 20:36 WIB
terasjakarta.id


Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air Boeng 737 tentunya mengundang keingintahuan orang tentang jenis pesawat ini. Pesawat nahas yang diduga jatuh di Kawasan perairan Pulau Seribu, Jakarta Utara itu adalah Pesawat jenis boeing 737-524 dan ini merupakan type classic.

Boeing 737 merupakan salah satu jenis pesawat komersial berbadan sempit dengan mesin ganda (twin jet) yang diproduksi oleh Pabrik Boeing di Seattle, Amerikas Serikat.

The Boeing 737 Classic adalah pesawat yang sempit-tubuh diproduksi oleh Boeing Commercial Airplanes , generasi kedua dari asli Boeing 737 -100 / -200. Pengembangan dimulai pada 1979 dan varian pertama, 737-300, terbang pertama pada Februari 1984 dan mulai beroperasi pada Desember tahun itu. 737-400 pertama terbang pada Februari 1988 dan memasuki layanan akhir tahun itu Varian terpendek, 737-500, terbang pertama pada Juni 1989 dan memasuki layanan pada 1990.

-Regulator penerbangan Amerika Serikat, Federal Aviation Administration (FAA) pada tahun 2020  telah mengeluarkan peringatan kepada maskapai-maskapai di AS yang mengoperasikan jenis pesawat Boeing 737 Next Generation (NG) dan Classic.

Jenis pesawat tersebut, yakni B737 NG (seri 600, 700, 800, dan 900) dan Classic (seri 300, 400, 500), juga banyak dipakai oleh maskapai di Indonesia.

Termasuk Sriwijaya Air yang jatuh diperairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1/2021). 

Selain Sriwijaya Air pesawat jenis tersebut juga banyak dipakai maskapai di Indonesia lainnya. eperti misalnya Garuda Indonesia yang mengoperasikan B737-800, Lion Air dengan B737-800 dan 900. 

Menurut FAA, di dalam mesin pesawat CFM56 yang dipakai oleh Boeing 737 NG dan Classic, yang tidak beroperasi selama tujuh hari berturut-turut atau lebih, ditemukan korosi (karat) di bagian air valve check.

Jika terdapat korosi, maka bagian mesin tersebut harus diganti sebelum pesawat kembali beroperasi. Bila tidak maka mesin pesawat tersebut rawan mati saat di udara.  

Peringatan tersebut ditujukan untuk pesawat yang tidak dioperasikan selama tujuh hari berturut-turut atau lebih.

Menurut FAA, di dalam mesin pesawat CFM56 yang dipakai oleh Boeing 737 NG dan Classic, yang tidak beroperasi selama tujuh hari berturut-turut atau lebih, ditemukan korosi (karat) di bagian air valve check.

Jika terdapat korosi, maka bagian mesin tersebut harus diganti sebelum pesawat kembali beroperasi.

FAA mengatakan bahwa imbauan tersebut diterbitkan setelah setidaknya ada empat laporan mati mesin yang dialami B737.

Setelah diinvestigasi, insiden itu terjadi akibat komponen air check valve di dalam mesin selalu ‘nyangkut’ dalam kondisi terbuka akibat korosi.

Air check valve umumnya terbuka saat mesin pesawat bekerja maksimal, seperti saat takeoff. Dan menutup saat berada di ketinggian jelajah (cruising).

Terbang dengan kondisi air valve check yang ‘menyangkut’ tak bisa menutup itu, menurut FAA bisa mengakibatkan dual engine power loss. Atau kedua mesin pesawat mati saat di udara dan tidak bisa di-restart lagi.

Boeing sendiri selaku produsen pesawat Boeing 737 mengatakan, bahwa pihaknya telah memberitahu seluruh maskapai operator B737 di seluruh dunia, untuk menginspeksi pesawat masing-masing, terutama yang disimpan.

“Banyak pesawat yang disimpan atau jarang diterbangkan karena sepinya penumpang akibat Pandemi Covid-19. Valve mesin jadi lebih mudah berkarat,” tulis Boeing.

Hingga saat ini, ada lebih dari 10.000 pesawat jenis Boeing 737 yang dipesan dan dikirim, semenjak pertama kali seri pesawat itu dibuat pada 1968.

Garuda Indonesia sendiri saat ini memiliki total 73 unit B737-800. Sementara Lion Air memiliki total 43 unit B737-800 dan 78 unit B737-900. Sedangkan Sriwijaya Air memiliki enam unit B737-500, 16 unit B737-800, dan 2 unit B737-900.

Seperti diberitakan Pesawat Sriwijaya Air SJY-182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak di Kepulauan Seribu tidak lama lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta. Situs FlightRadar24 menyebut pesawat itu kehilangan ketinggian 10 ribu kaki dalam 1 menit.

Dipantau dari situs FlightRadar24, pesawat Sriwijaya Air sempat mencapai ketinggian 10.900 kaki. Mendadak, ketinggian berubah menjadi 8.950 kaki, turun ke 5.400 kaki, hingga terakhir terpantau di 250 kaki.

Setelah itu, pesawat hilang kontak. Pesawat ini merupakan jenis Boeing 737-500 dengan nomor registrasi PK-CLC. (poskota/don) 

 

Pesawat Boeing seri 737 disebut rawan mati mesin di udara. Peringatan ini disampaikan Regulator penerbangan Amerika Serikat Federal Aviation Administration (FAA) pernah mengeluarkan peringatan jika pesawat jarang dipakai akan menimbulkan korosi (karat)

Loading...

Related Post