Jawab Keresahan Pengrajin Tahu dan Tempe, Polri Sidak ke Parbrik Kedelai: Kalau Ada Yang Nimbun dan Mainkan Harga Kita Sikat

Jawab Keresahan Pengrajin Tahu dan Tempe, Polri Sidak ke Parbrik Kedelai:  Kalau Ada Yang Nimbun dan Mainkan Harga Kita Sikat
Pengrajin Tahu dan Tempe (Merdeka.com)
Editor : Donald Berita Anda — Rabu, 6 Januari 2021 12:18 WIB
terasjakarta.id


Melonjaknya harga kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe akhir-akhir ini sangat meresahkan pengrajin tahu dan tempe. Bahkan, menu makanan yang dekat dengan masyarakat ini sempat menghilang dari pasaran akibat aksi mogok yang dilakukan para pengrajin sebagai wujud protes mahalnya harga kedelai.

Kuat dugaan, melambungnya harga kedelai salah satunya dipicu adanya aksi penimbunan yang dilkakukan para oknum yang ingin mengeruk keuntungan besar.

Terkait itu,  Mabes Polri akan memproses secara hukum importir kedelai yang mencoba melakukan penimbunan dan memainkan harga sehingga menyebabkan kelangkaan dan mahalnya bahan baku tersebut.

"Polri merespon kelangkaan kedelai di pasar terutama importir, apabila di temukan ada dugaan pidana maka Satgas Pangan akan melakukan penegakan hukum," kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono, Jakarta, Rabu (6/1/2021).


Menurut Argo,  Satgas Pangan Bareskrim Polri  sudah melakukan pengecekan ke gudang-gudang importir kedelai. Diantaranya gudang di kawasan Bekasi, yakni, PT. Segitiga Agro Mandiri. Dalam temuannya, perusahaan itu bergerak di bidang impor kedelai ex Amerika dengan kapasitas antara 6.000 hingga 7.000 ton per bulan.


"Kedelai import tersebut selain diperuntukan guna pemenuhan industri tahu dan tempe untuk kwalitas II juga dipergunakan untuk proses pakan ternak dan proses pembuatan minyak kedelai serta produk turunan lainya," ujar Argo.

Selanjutnya, kata Argo, distribusi ke UMKM industri tahu dan tempe ke wilayah Jabodetabek dan Bandung Jawa Barat dengan pendistribusian antara 250-300 ton per hari dan stok tersisa saat ini sebanyak 2.500 ton.

Kacang kedelai tersebut disalurkan melalui distributor dengan harga saat ini Rp 8.600/Kg terjadi kenaikan sekitar Rp 1.000 sejak pertengahan bulan Desember 2020.

views: 298

Argo menjelaskan, sementara ini pihaknya mendapat pengakuan dari importir kelau kenaikan harga disebabkan karena selain harga beli di negara asal terjadi kenaikan yang sebelumnya 6.800 menjadi 8.300. Selain itu juga  disebabkan dikarenakan sejak pertengahan bulan Oktober-Desember 2020 kapal yang langsung tujuan Indonesia sangat jarang sehingga menggunakan angkutan tujuan Singapura dan sering terjadinya delay dikarenakan menunggu waktu dalam konekting ke Indonesia sehingga keterlambatan antara 2- 3 minggu. (sindo/Don)



 

Satgas Pangan Bareskrim Polri melakukan sidak ke gudang-gudang importir kedelai guna menyikapi keresahan para pengrajin tahu/tempe akibat melonjaknya harga kedelai.

Loading...

Related Post