Menyusur Kampung Wijilan dan Sejarah Gudeg sebagai Kuliner Khas Yogyakarta

Menyusur Kampung Wijilan dan Sejarah Gudeg sebagai Kuliner Khas Yogyakarta
ist
Editor : Potan Jakarta Food — Jumat, 25 Desember 2020 16:49 WIB
terasjakarta.id

Kota Pelajar dan Pariwisata melekat dalam jatidiri Yogyakarta. Namun, tak seorang pun bakal menyanggah gudeg sebagai kuliner khas asli kota ini.

Ya, kamu bisa mudah menjumpai penjual gudeg bertebaran di setiap penjuru kota. Jadi, selain Kota Pelajar dan Pariwisata, predikat Kota Gudeg juga disematkan untuk Yogyakarta.

Terdapat kawasan di Yogyakarta yang sudah kondang dikenal sebagai sentra penjualan gudeg, yaitu di Wijilan. Sentra gudeg Wijilan berjarak hanya 50 meter dari Alun-alun Utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Konon Ibu Slamet-lah yang mengawali berjualan gudeg di Wijilan pada 1946. Kini terdapat belasan tempat makan atau warung gudeg di Wijilan. Warung-warung berupa bangunan satu lantai itu berderet rapi selepas plengkung.

Masing-masing tempat makan tersebut hadir dengan kekhasannya. Di warung-warung itu pengunjung bisa menikmati gudeg dengan lauk favorit pilihannya sembari duduk lesehan atau di kursi makan yang tersedia.

Kawasan wisata kuliner tersebut kini tak pernah sepi pembeli, baik warga Yogyakarta maupun para pelancong dari luar daerah. Mereka datang silih berganti, menyebabkan jalan di Wijilan yang sempit senantiasa ramai.

Rata-rata warung gudeg di sana mulai buka pukul 06.00 hingga 21.00 WIB. Namun ada juga yang buka 24 jam, seperti Warung Gudeg Ibu Tarto.

Gudeg dibuat dari nangka muda yang dimasak selama berjam-jam bersama santan. Warna kecoklatan dihasilhan oleh daun jati yang dimasak bersamaan. Dalam penyajiannya gudeg biasanya disiram areh. Gudeg biasa dimakan bersama nasi dengan lauk pelengkap daging ayam kampung, telur bebek masak pindang, tahu, serta sambal goreng krecek.

Hingga kini belum bisa dipastikan kapan serta siapa yang kali pertama menciptakan hidangan bercita rasa manis nan terkenal itu. Namun setidaknya terdapat dua kisah berbeda tentang terciptanya gudeg ini. Yang pasti, gudeg tidak lahir di dalam lingkungan keraton.

Konon kuliner khas Yogya ini lahir secara tak sengaja pada masa Kerajaan Mataram hendak membangun keraton di Hutan Mentaok yang dipenuhi pohon nangka dan kelapa. Alkisah, suatu hari ketika seorang prajurit bagian dapur sedang memasak gori dan santan, tiba-tiba ia dipanggil rekannya agar membantu menebang pohon.

Prajurit bagian dapur itu pun pergi selama berjam-jam, lupa bahwa ia sedang memasak. Namun kejadian tak terduga itu justru memunculkan jenis masakan baru, gudeg.

Kisah lain di balik hikayat lahirnya gudeg adalah ketika pada 1557 istri seorang prajurit bernama Sri Sumantri untuk kali pertama meramu masakan yang terdiri dari nangka muda, gula, dan santan. (adt)

Menyusur Kampung Wijilan Sejarah Gudeg Kuliner Khas Yogyakarta

Loading...

Related Post