Dark Tourism ke Lubang Buaya Mengupas Sejarah Kelam Masa Lalu

Dark Tourism ke Lubang Buaya Mengupas Sejarah Kelam Masa Lalu
Lubang Buaya (ist)
Editor : Potan Traveling — Jumat, 11 Desember 2020 14:18 WIB
terasjakarta.id

Anda ingin traveling dengan konsep yang berbeda? Dark tourism bisa dicoba. Dark Tourism merupa kegiatan berwisata yang dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat yang sering diidentikkan dengan tragedi, kekejaman, atau kematian.

Dalam bahasa Indonesia, dark tourism diartikan dalam berbagai kata, seperti “wisata kelam”, “wisata gelap”, atau “wisata hitam”. Tapi nanti dulu, meski namanya terdengar menyeramkan, namun dark tourism bukan wisata yang menakutkan. Yah, hanya menegangkan.

Konsep dark tourism mungkin masih asing di telinga, karena terbilang istilah baru dalam dunia pariwisata. Padahal kegiatan dark tourism ini mungkin sudah ada sejak dulu dan memiliki banyak penggemar.

Namun penggemarnya kurang memahami bahwa konsep dark tourism merupakan konsep wisata yang berbeda dari sekadar berjemur di pantai, atau bersenang-senang disebuah kapal pesiar.

Beberapa contoh lokasi dark tourism yang terkenal di dunia adalah Monumen 11 September di AS untuk memperingati runtuhnya WTC, dan Auswitz di Polandia yang dulunya merupakan lokasi perkemahan NAZI.

Bahkan di Indonesia, lokasi dark tourism juga ada, dan tak kalah menegangkan. Salahsatunya, Monumen Pancasila Sakti atau kita lebih mengenalnya dengan Lubang Buaya.

Lubang Buaya sebagai monumen sejarah di Indonesia banyak dikunjungi oleh wisatawan, mulai dari kalangan akademis hingga pecinta sejarah

Tempat yang berlokasi di Jakarta Timur ini menjadi salah satu lokasi dark tourism yang menarik banyak minat turis lokal maupun internasional, apalagi bagi para penggemar sejarah.

Menurut narasi yang dibangun Orde Baru, Lubang Buaya dulunya merupakan tempat pembuangan para korban G 30 S yang terjadi pada 30 September 1965.

Saat ini, Lubang Buaya terdiri dari Lapangan Peringatan Lubang Buaya yang berisi Monumen Pancasila, museum diorama, sumur tempat para korban dibuang, serta sebuah ruangan berisi relik.

Di sana juga terdapat rumah di mana katanya ketujuh pahlawan revolusi disiksa dan dibunuh, bahkan masih terdapat mobil yang dulunya digunakan untuk mengangkut korban.

Kendati temuan-temuan sejarah sudah membuktikan kekeliruan kisah-kisah di balik Lubang Buaya ini, namun ilustrasi dan bukti-bukti kematian ketujuh jenderal ini tetap bisa membuat para pengunjung merasakan perjalanan penuh emosional. (adt)

Dark Tourism Lubang Buaya Mengupas Sejarah Masa Lalu yang Kelam

Loading...

Related Post