Pasar Barang Antik Jalan Surabaya, Surganya Pecinta Barang Vintage

Pasar Barang Antik Jalan Surabaya, Surganya Pecinta Barang Vintage
ist
Editor : Potan Traveling — Kamis, 3 Desember 2020 18:16 WIB
terasjakarta.id

Vagi kamu yang tertarik pada barang-barang jadul, alias vintage, Pasar Barang Antik di Jalan Surabaya, Cikini adalah jujukan utama untuk berburu. Mulai dari jam antik hingga telepon jadul yang unik, semuanya ada di sini.

Bagi penggemar fotografi, banyak spot di Pasar Barang Antik di Cikini ini yang Instagenik. Malahan, tidak jarang lho orang berfoto prewedding di area ini untuk mendapatkan kesan vintage dan oldies.

Yah, nama Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat, terkenal sebagai pusat jual beli barang antik. Disini, pengunjung tak hanya dari dalam negeri, tapi juga wisatawan mancanegara.

Mereka kerap menjadikan Jalan Surabaya sebagai salah satu destinasi wisata mereka.

Dulunya, penjual barang antik di Jalan Surabaya menjajakan dagangan hanya mengemper menggunakan tikar.

Saat itu pemerintah melihat potensi wisata di kawasan tersebut, sehingga dibentuklah Jalan Surabaya seperti sekarang ini dengan mendirikan deretan kios bagi pedagang barang antik.

Hal itu diungkapkan penjual barang antik, bernama Ricky (37). Dirinya mulai beraktivitas di pasar barang antik di Jalan Surabaya, selama 18 tahun.

Sebelum Ricky, ayahnyalah yang lebih dulu menggeluti profesi sebagai penjual barang antik di Jalan Surabaya.

Namun, kini popularitas Jalan Surabaya kian meredup. Namanya juga mungkin termakan oleh waktu.

Berdasarkan salah satu mantan pedagang yang kini menjadi koordinator pedagang di Jalan Surabaya, Ujang, saat ini memang mulai sudah mulai sepi.

Ujang mengaku sudah berdagang di Jalan Surabaya sejak 1970 silam. Saat masih berjualan barang antik, dagangannya laris manis. Para pembeli dari luar kota ataupun luar negeri berdatangan.

"Dulu ramai banget lagi zaman Pak Harto (mantan Presiden). Jadi pengunjung itu luar dalam (negeri), sama orang kita," tutur Ujang.

Kala itu, menurut Ujang, sekali datang pengunjung bisa empat sampai lima bus. Tetapi kini, sudah tidak seperti itu lagi. Pernah ada yang datang banyak, tapi itu juga hanya menggunakan minibus.

Di kios seluas lebar 2 meter dan panjang 2,5 sampai 3 meter, para pedagang barang antik tetap setia berjualan. Mereka tidak membayar sewa lagi karena rata-rata langsung membeli kios masing-masing. Menurut Ujang, harga kios zaman dahulu itu hanya Rp 70 ribu saja.

"Dulu tahun 70 udah ramai, cuma belum kaya gini (bentuk kios), masih pakai peti-peti jualannya, naro (barang dagangan) enggak di kios, di perumahan dulu. Bangunannya udah milik pribadi, udah dibayarin dari dulu. Tapi itu bangunannya aja, kalau tanahnya enggak, hak DKI," ujar dia.

Ujang menyayangkan sepinya pembeli di tempat barang antik Jalan Surabaya. Dia mengaku rindu karena pernah mengantarkan barang pesanan ke para pelanggannya, seperti ke hotel-hotel.

Dia bercerita, pembeli di Jalan Surabaya, mulai sepi sejak kejadian bom di Hotel JW Marriot pada 2003 lalu. Ditambah lagi serangkaian peristiwa bom Bali pada 2002 dan 2005. Kemudian terakhir bom Thamrin 2016 yang semakin membuat sepi para turis datang ke Jalan Surabaya.

Meski begitu, tetap saja ada peminat barang antik yang datang. Walau tak seramai dulu, Ujang bersyukur masih ada pembeli yang datang mencari barang antik di Jalan Surabaya.

Ujang menunjukkan beberapa barang antik yang ada di kios dekatnya. Ada cangkir, sendok, teko, lampu-lampu dinding, hingga pajangan-pajangan antik.

Harganya pun bervariasi. Ujang mencontohkan yang termurah adalah sendok antik dibanderol dengan harga Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu satuannya.

Sedangkan barang-barang lain, harganya bervariasi. Mulai dari ratusan, hingga bahkan puluhan juta Rupiah.

"Barang termahal kalau yang udah kuno benar. (Yang mahal) misalnya lampu-lampu besar dua, tiga tingkat," kata Ujang.(adt)

Pasar Barang Antik Jalan Surabaya Pecinta Barang Vintage

Loading...

Related Post