La Nyalla Berharap Kasus Pengepungan Kediaman Ibunda Mahfud MD Tak Terulang Lagi

La Nyalla  Berharap Kasus Pengepungan Kediaman Ibunda Mahfud MD Tak Terulang Lagi
La Nyalla Mattalitti (Poskotajabar)
Editor : Donald Berita Anda — Rabu, 2 Desember 2020 20:54 WIB
terasjakarta.id


Kasus pengepungan kediaman ibunda Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, Siti Khotijah, di Pamekasan, Madura, Jawa Timur pada Selasa (1/12).  hingga kini masih menjadi sorotan publik.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia La Nyalla Mattalitti ikut buka suara menanggapi kasus ini.

Ia mengajak semua pihak yang memiliki perbedaan pendapat dengan Pemerintah, khususnya kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, untuk tabayun supaya tidak merugikan orang lain.

"Bila memang ada perbedaan pendapat, masyarakat bisa melakukan tabayun dengan Pemerintah. Jangan melakukan tindakan yang dapat merugikan orang lain," ujar La Nyalla dalam pernyataan tertulis, di Jakarta, Rabu (2/12).

Seperti diketahui, sekelompok orang disebut sebagai massa Front Pembela Islam (FPI)  mendatangi rumah ibu Mahfud yang sudah berusia 90 tahun. Selain ibu Mahfud, di rumah tersebut juga terdapat kakak Mahfud yang berusia 70 tahun beserta dua orang, yaitu perawat dan pekerja rumah tangga.

Ibunda Mahfud yang sudah tua itu sempat ketakutan saat rumahnya dikepung sekelompok massa yang mencari keberadaan Mahfud.

Puluhan orang, yang bergabung dalam kelompok itu, mengepung rumah ibunda Mahfud untuk menyampaikan ketidaksetujuan mereka pada pernyataan Mahfud MD, yang diduga terkait Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.

La Nyalla mengatakan dirinya tak menghendaki kejadian itu menimpa orang tua seperti ibunda Mahfud Md. Karena, menurut dia, orang tua seharusnya dihormati bukan ditakut-takuti.

"Kita harus menghormati orang tua. Bila memang ada ketidaksetujuan dengan Pak Mahfud, bisa disampaikan lewat cara-cara yang lebih sesuai. Tidak dengan mendatangi kediamannya, apalagi di rumah Ibunda Pak Mahfud yang sudah sepuh," ujar La Nyalla seperti dilansir Antara.

Senator asal Daerah Pemilihan Jawa Timur itu mengajak tokoh masyarakat dan tokoh agama, khususnya yang berada di Madura, agar menekankan tabayun kepada masyarakat agar kejadian serupa tidak terulang.

Ia pun mengimbau masyarakat menyampaikan aspirasi mereka melalui lembaga legislatif yang memang bertugas untuk itu, termasuk para senator DPD RI.

La Nyalla memastikan bahwa DPD RI akan menyampaikan aspirasi masyarakat kepada Pemerintah. Masyarakat bisa menggunakan saluran para anggota DPD, sebagai perwakilan daerah masing-masing.

"Para senator pasti akan hadir untuk rakyat. Oleh karena itu, sampaikan aspirasi lewat perwakilan DPD yang ada di daerah. Kami pasti akan sampaikan kepada Pemerintah supaya bisa kita carikan solusi bersama," ujar La Nyalla.

Dijaga Ketat

Sementara itu, akibat  aksi  pengepungan kediaman ibunda Mahfud MD, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas telah menginstruksikan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) untuk menjaga rumah orang tua Mahfud MD.

 Langkah ini untuk  mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, seperti kejadian pengepungan oleh ratusan orang pada Selasa

Pihaknya memiliki kewajiban melakukan pengamanan karena Mahfud MD adalah salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang sudah semestinya dijaga dari berbagai ancaman.

"Ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab utama seluruh kader Banser untuk melindungi para kiai, dan juga tokoh-tokoh NU dari ancaman atau gangguan yang datang. Dengan demikian tanpa diminta pun kita pasti akan beri perlindungan," kata Gus Yaqut, panggilan akrabnya dalam pernyataan tertulis, di Jakarta, Rabu.

Untuk pengamanan, kata Gus Yaqut, pihaknya menerjunkan anggota Banser dari wilayah Pamekasan dan sekitarnya.

"Mereka akan bertugas bergantian dan berkoordinasi dengan aparat kepolisian setempat," katanya.

Gus Yaqut sangat prihatin atas terjadinya aksi pengepungan di rumah Mahfud, sebab selama ini rumah di Pamekasan tersebut bukan dihuni oleh Mahfud, namun oleh orang tuanya.

Ia mengatakan bahwa cara-cara menyampaikan aspirasi dengan mendatangi rumah seseorang tanpa izin juga tak bisa dibenarkan.

Lebih-Lebih, lanjut dia, aksi mereka tidak sepengetahuan aparat dan lebih sebagai aksi provokasi dan menebar ancaman.

Untuk itu, Gus Yaqut berharap agar kasus pengepungan rumah Mahfud MD ini segera diusut tuntas dan meminta kepolisian untuk tidak gentar karena jika dibiarkan cara-cara preman seperti ini akan menjadi preseden buruk dalam praktik demokrasi di Indonesia.

"Jika tidak suka atas kebijakan, misalnya, salurkanlah dengan cara yang benar. Bisa dialog atau gunakan jalur hukum. Apalagi kita ini orang beradab, jangan pakai cara jalanan seperti itu," kata Gus Yaqut. (Disadur dari Antara/Donald)

La Nyalla mengajak pihak-pihak yang berbeda pendapat untuk tabayun dan tidak merugikan orang lain. Ia berharap kasus seperti pengepungan kediaman ibunda Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD tidak terulang lagi.

Loading...

Related Post