Tuan Demang yang Merasa Demokrasi

Tuan Demang yang Merasa Demokrasi
Tom Pasaribu, SH
Editor : Potan Anda Menulis — Selasa, 24 November 2020 12:17 WIB
terasjakarta.id

Oleh: Tom Pasaribu, SH
- Direktur Eksekutif KP3-I
- Mantan Presidium Relawan Anies


Ketika perebutan kursi tuan demang terjadi, seorang calon tuan demang meminta agar rakyat mendukung dan memimilihnya berketepatan saya bergabung dengan seorang tokoh yang sudah memiliki pengalaman politik.

Sebelum ada kesepakatan calon tuan demang mengadakan pertemuan untuk menyatukan visi dan misi kedepan serta apa rencana tuan demang tersebut nantinya bila kita memenangkannya mendapat kursi tuan demang.

Tuan demang berjanji akan memperbaiki birokrasi yang sudah sangat hancur dan rusak serta akan lebih mendahulukan kepentingan rakyat, saya dan wakil tuan demang akan membatalkan proyek reklamasi demi kepentingan rakyat, kami tidak akan melakukan penggusuran, tiap tahun kita akan siapkan lapangan kerja untuk 200 ribu orang, kita akan benahi birokrasi yang korup, kita akan membangun rusun DP 0% untuk memenuhi kebutuhan rakyat, saya dan wakil demang bekerja untuk rakyat.

Demikianlah yang keluar ucapan-ucapan dari bibir tuan demang lalu saya berkata apakah kami bisa pegang ucapanmu? jawab saya. Sebab kalau tidak ada perubahan lebih baik tuan demang sekarang yang dipertahankan.

Calon tuan demang pun menjawab kalau kami diberikan kepercayaan kami akan memperbaiki semua yang telah rusak percayalah bila kami diberi amanah. Lalu saya katakan saya berpegang pada kata-kata calon tuan demang dan wakil kita akan pegang teguh kata calon tuan demang dan wakil.

Maka kitapun sepakat memenangkan tuan demang dan wakilnya dikala itu ada 3 calon yang maju untuk merebut kursi tuan demang calon tuan demang dan wakilnya nyalinya ternyata cemen, lawan kita berat-berat, masuk keputaran 1 pun kita sudah hebat.

Begitulah ucapan-ucapan mereka dikala itu, berat kita memenangkan perebutan kursi tuan demang ini, itulah yang terlontar dari mulut calon tuan demang dengan tim pendukungnya, tapi saya berkeyakinan tuan demang dan wakil yang saya dukung akan menang karena program dan kata-katanya yang bagus, namun saya alpa menanyakan niatnya menjadi tuan demang.

Putaran pertama dilaksanakan ketakutan tuan demang dengan tim horenya tidak masuk putaran 1 pupus sudah sebab setelah dihitung tuan demang yang kita dukung bertarung diputaran 2 dengan
incumben.

Menjelang akhir putaran 2 ketika mau dilaksanakan pemungutan suara calon tuan demang semakin khawatir apalagi kubu sebelah memiliki strategi yang jitu membuat panggung dimana-mana dan isu yang disebarkan panggung untuk acara perayaan kemenangan padahal panggung tersebut untuk acara pernikahan.

Calon tuan demang dan tim horenya mengatakan tidak mungkin kita menang sialnya di tim kamipun jadi ikut-ikutan mengatakan tidak menang. Tapi saya berkeyakinan tuan demang yang saya dukung pasti menang.

Satu hari sebelum pemilihan teman saya tokoh politik itu memanggil saya keruangannya dan bertanya bagaimana besok pemilihan Tom apa kita bisa menang? Itu pertanyaannya, lalu saya jawab kanda jabat tangan saja kita menang dalam pemilihan.

Besok beliau ragu dan heran bahkan tidak percaya kalau kanda tidak mau menang tidak usah berjabat tangan kalau kanda mau menang jabat tangan saya, kira-kira begitulah obrolan dan perilaku kami berdua diruangannya.

Keesokan harinya sebelum usai pemungutan suara sayapun menuliskan suara yang diraih tuan demang yang kami dukung 58% di FB pribadi saya begitu saya torehkan ada yang berucap jangan mendahului Tuhan katanya tapi aku jawab dengan senyum.

Berat bangat kita ini menang, kata yang lain tapi saya tetap disaat survey-survey melakukan perhitungan suara ternyata tuan demang yang kita dukung yang menang tinggal menunggu pengumuman resminya saja langsung deh semua teriak dan bergembira.

Setelah menang tuan demang dan wakil
melakukan pertemuan tertutup dengan tokoh politik tersebut ketepatan saya ada didalam, lalu tuan demang berkata kita sudah menang pak, lalu mau bagaimana kita sekarang tokoh politik sebagai bos saya bilang bekerjalah untuk kepentingan rakyat.

Lalu tuan demang dan wakilnya bertanya bagaimana bang tom, sayapun menjawab saya tidak mengejar jabatan tapi kalau berkenan kebijakan-kebijakan untuk kepentingan rakyat kiranya kita dilibatkan.

Setelah dilantik kita masih melakukan pertemuan-pertemuan tapi setelah itu tuan demangpun membuat jarak dengan kami tanpa alasan yang pasti setiap mau memberikan masukan tokoh politik prosesnya lama bangat.

Semakin lama saya melihat kinerja tuan demang semakin edan saya laporkan bahwa ada anak buahnya yang patut diduga melakukan tindakan korupsi malah dilindungi, dan yang saya buat patah arang terhadap sikap tuan demang adalah mencopot kepala dinas pendidikan demi proyek pengadaan meubeler, semakin edan saya lihat tuan demang yang saya dukung.

Maka dengan tegas saya dan tim saya mencabut dukungan dengan resmi, agar tidak terlibat dengan permainan kotor tuan demang edan yang merasa sebagai raja.

Sekarang tuan demang berbicara demokrasi yang mati padahal dia sendiri yang merusak dan mematikan demokrasi itu. Ibarat sebuah pepatah lempar batu sembunyi tangan.

Jakarta, 24 November 2020



Tuan Demang Demokrasi

Loading...

Related Post