Seknas Prabowo-Sandi: Pemilu 2019 Pesta Demokrasi yang Paling Kusut

Seknas Prabowo-Sandi: Pemilu 2019 Pesta Demokrasi yang Paling Kusut
foto terasjakarta.id
Editor : Potan RI-1 — Sabtu, 30 Maret 2019 02:38 WIB
terasjakarta.id



Pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019 sekarang sebagian kalangan menilai paling banyak muncul persoalan sebelum diselenggarakan pada Rabu 17 April mendatang.

Ketua Seketariat Nasional (Seknas) Mohamad Taufik menyatakan, beragam persoalan menjelang pemilu sudah terjadi sejak lama, namun tidak diselesaikan oleh pemerintah maupun Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilu.

Taufik memberi contoh soal aturan dalam memilh yang boleh menggunakan Surat Keterangan (Suket) yang diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi beberapa waktu lalu. Kata dia, suket herus segera diberikan pada warga yang belum memiliki e-KTP agar dapat memilih. Untuk itu Dukcapil segera mengumumkan masalah itu.

"Kami, khususnya di Jakarta meminta Dukcapil agar Suket itu harus 'dengan nama berdasarkan alamat'. Kita juga meminta penjelasan tentang orang yang belum melakukan perekaman e-KTP. Kita akan meminta nama-nama itu minggu depan," kata Taufik di Seknas Prabowo-Sandi, Jakarta Pusat, Jumat (29/3). 

Kekusutan lain muncul dalam pemilu selanjutnya soal WNA yang memiliki e-KTP. Menurut Taufik soal daftar pemilih yang dianggap asal-asalan termasuk orang yang memiliki keterbelakangan mental menjadi peserta pemilih.

"Sangat banyak yang aneh di pemilu kali ini. KPUD yang menyampaikan daftar pemilih sementara yang asal-asalan, mulai jumlahnya sampai orang gila diikutkan dalam memilih. Pokoknya ribet dan sangat kusut," tegasnya.

Hal lain Taufik menjelaskan pada soal perhitungan setelah selesai waktu pencoblosan. Dirinya memperkirakan selesai perhitungan 18 sampai 24 jam secara berakhir masa pencoblosan.

Taufik mencontohkan, satu kotak suara ada 275 suara, dikali empat kotak suara. Total sekitar 1000-an lembar suara yang harus dibuka di setiap TPS. 

"Satu kali buka satu suara butuh waktu 1,5 menit. Kalau 1,5 menit berarti 1,600 menit, dibagi 60, 27,5 jam. Kalau 1 menit butuh 18 jam, kalau mulai dari jam 1 berarti sampai jam 06.00 pagi. Berarti sampai Selagi ini selesainya. Ini kan harus dipertimbangkan. Angka-angka menit ini harus bisa kita perhatikan. Saya dengar KPU sudah minta waktu tambahan lima jam," pungkasnya.


Seknas Prabowo-Sandi: Pemilu 2019 Pesta Demokrasi yang Paling Kusut

Loading...

Related Post