Ogah Dikarantina karena COVID-19, Wanita Rusia Melarikan Diri dari Ruang Isolasi

Minggu, 16 Februari 2020 14:43 WIB

Share
Ogah Dikarantina karena COVID-19, Wanita Rusia Melarikan Diri dari Ruang Isolasi
terasjakarta.id

 Alla Ilyana mengalami sakit tenggorokan usai kembali ke Rusia dari Tiongkok. Karena takut akan infeksi COVID-19, pemerintah pun mengirimnya ke karantina di Botkinskaya Clinical Infectious Diseases Hospital, Saint Petersburg.

Namun, karena merasa tidak puas dengan karantina yang dilakukan, ibu rumah tangga berusia 32 tahun itu melarikan diri dari rumah sakit. Dia berdalih telah dinyatakan negatif selama tiga kali dalam tes COVID-19.

"Pada tanggal 4 (Februari), saya sakit tenggorokan, tidak ada panas," kata wanita yang meninggalkan Hainan pada 30 Januari lalu, seperti dikutip dari RT pada Minggu (16/2/2020).

"Pada 6 Februari, mereka membawa saya ke rumah sakit menjanjikan itu hanya satu hari. Pada tanggal 7, dokter datang dan mengatakan, 'Selamat, Anda sehat, tes telah mengonfirmasi ini. Namun kami akan menahan Anda di sini selama dua minggu.'"

Bobol Kunci Ruang Isolasi

Pekerja medis memakai peralatan pelindung menyusul wabah virus corona di Wuhan, Provinsi Hubei, China, Minggu (26/1/2020). Hingga saat ini lebih dari 600 orang telah meninggal dunia akibat terjangkit virus corona yang mulai mewabah sejak akhir tahun lalu. (Chinatopix via AP)

Karena tak mau dikarantina selama dua minggu, dia pun segera kabur di hari itu dengan membongkar kotak kunci elektromagnetik. "Tidak mungkin saya duduk di kandang selama 14 hari. Tidak terima kasih."

Alla pun membuat peta dan rencana untuk meloloskan diri. "Ketika malam tiba dan staf medis telah menurunkan penjagaannya, saya memutus kunci magnetik di ruang penahanan dan membuka pintunya. Saya belajar fisika, itu membantu," ujarnya seperti dikutip dari The Moscow Times.

Juru bicara Komite Kesehatan, Olga Ryabinina mengatakan bahwa pasien telah diminta untuk tetap dipantau dan dirawat di rumah sakit selama 14 hari.

"Dia tidak patuh. Jadi sebuah telegram dikirim ke kepolisian untuk meminta mereka menagih pertanggungjawaban," kata Ryabinina.

Terancam Denda dan Konsekuensi Lain

Petugas medis memeriksa kondisi pasien kritis virus corona atau COVID-19 di Rumah Sakit Jinyintan, Wuhan, Provinsi Hubei, China, Kamis (13/2/2020). China melaporkan 254 kematian baru dan lonjakan kasus virus corona sebanyak 15.152. (Chinatopix Via AP)

Kepala rumah sakit Aleksei Yakovlev meminta agar pihak berwenang melakukan langkah yang lebih jauh. Dia juga telah mengajukan tuntutan terhadap wanita itu.

"Jika dia percaya bisa lolos dengan denda 500 rubel dan tidak ada konsekuensi untuk tindakan itu, dia salah besar," kata Yakovlev.

Halaman
Editor: Kashmirx
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar